Rabu, 17 Oktober 2018

APAKAH SEORANG INTROVERT BISA MENJADI EKSTROVERT?

Ketika aku masih kecil aku adalah seorang yang pendiam tidak banyak bicara kepada orang sekitar, apalagi terhadap orang yang tidak dikenal. Sampai-sampai untuk hal menjawab pertanyaan ya atau tidak, aku hanya menggunakan bahasa tubuh seperti menggangguk ‘ya’ dan geleng-geleng kepala ‘tidak’.

Sebegitu tertutupnya aku dan pendiamnya aku sewaktu kecil.

Sampai suatu hari ada seorang guru tk aku yang melihat keadaan aku dan tergerak hatinya untuk membuatku aktif seperti anak-anak normal biasanya. Walaupun aku tertutup dan pendiam tapi alhamdulillah aku diberi kelebihan dibandingkan yang lain, aku menonjol di sekolah, nilai-nilaiku selalu bagus walaupun tidak pernah aktif di kelas.

Nah, semenjak itu aku diajak guru tkku untuk selalu ikut serta dalam perlombaan. Baik itu dibidang akademik maupun non akademik. Tapi aku lebih sering mengikuti perlombaan di bidang non akademik seperti melukis, olahraga, kemudian agama, dsb. Dari situlah aku dituntut untuk dapat bersosialisasi dengan orang-orang, walaupun itu sangat berat karena harus meninggalkan zona nyaman dalam hidupku saat itu.

Tahun demi tahun aku mulai bisa berinteraksi dengan banyak orang, pandai berbicara tapi tidak bisa disebut pandai berbicara juga setidaknya aku dapat mengobrol dan masuk dalam pembicaraan orang. Karena dalam diriku masih ada rasa malu, malas untuk bertemu banyak orang bila memang tidak dalam situasi yang terpaksa pokoknya aku masih suka melakukan apapun sendiri.

Lalu bagaimana aku bisa terlihat seperti seorang ekstrovert?

Sebenernnya menurutku introvert dan ekstrovert itu bukanlah suatu kepribadian, tapi introvert dan ekstrovert adalah bagaimana seseorang tersebut dapat mengisi ulang energinya kembali. Seorang introvert suka dalam hal kesendirian, sepi, tidak mau berada dikerumunan orang sedangkan ekstrovert kebalikannya.

Contohnya aku, selalu terlihat seperti seorang yang suka dengan keadaan ramai, dikerumuni banyak orang karena aku orangnya suka ikut duduk dan ikut mengobrol dengan orang padahal itu tidak. Setelah aku melakukan hal tersebut aku merasa energiku habis, aku harus memulihkannya dengan ‘me time’. Biasanya aku pergi ke toko buku, membeli es krim, duduk di cafe/retoran, datang ke tempat wisata. Tapi aku selalu melihat situasi dan keadaan, bila ramai aku enggan untuk berkunjung dan memilih untuk pindah ke tempat lain karena aku butuh suasana yang mendamaikan pikiran dan perasaanku.

Jadi, kalau pendiam dan tertutup itu apa?

Itu adalah sikap, sikap bisa dirubah dengan adanya niatan dalam diri kita untuk berubah dan membiasakan diri. Memang sulit, tapi jika niatmu sudah bulat dan kamu selalu berusaha. Perlahan-lahan akan terbiasa dan biasa saja walaupun terkadang masih ada yang tersisa dalam dirimu.

Aku hanya membagikan pengalaman dalam hidupku agar bisa memberikan pesan kepada orang-orang yang mengalami hal yang sama sepertiku.


Mohon maaf bila ada salah dalam perbedaan persepsi, karena aku menulis berdasarkan pengalaman pribadi bukan orang lain. Terimakasih dan selamat membaca ^_^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar