Ketika aku masih kecil aku adalah
seorang yang pendiam tidak banyak bicara kepada orang sekitar, apalagi terhadap
orang yang tidak dikenal. Sampai-sampai untuk hal menjawab pertanyaan ya atau
tidak, aku hanya menggunakan bahasa tubuh seperti menggangguk ‘ya’ dan
geleng-geleng kepala ‘tidak’.
Sebegitu tertutupnya aku dan
pendiamnya aku sewaktu kecil.
Sampai suatu hari ada seorang
guru tk aku yang melihat keadaan aku dan tergerak hatinya untuk membuatku aktif
seperti anak-anak normal biasanya. Walaupun aku tertutup dan pendiam tapi
alhamdulillah aku diberi kelebihan dibandingkan yang lain, aku menonjol di
sekolah, nilai-nilaiku selalu bagus walaupun tidak pernah aktif di kelas.
Nah, semenjak itu aku diajak guru
tkku untuk selalu ikut serta dalam perlombaan. Baik itu dibidang akademik
maupun non akademik. Tapi aku lebih sering mengikuti perlombaan di bidang non
akademik seperti melukis, olahraga, kemudian agama, dsb. Dari situlah aku
dituntut untuk dapat bersosialisasi dengan orang-orang, walaupun itu sangat
berat karena harus meninggalkan zona nyaman dalam hidupku saat itu.
Tahun demi tahun aku mulai bisa
berinteraksi dengan banyak orang, pandai berbicara tapi tidak bisa disebut
pandai berbicara juga setidaknya aku dapat mengobrol dan masuk dalam pembicaraan
orang. Karena dalam diriku masih ada rasa malu, malas untuk bertemu banyak
orang bila memang tidak dalam situasi yang terpaksa pokoknya aku masih suka
melakukan apapun sendiri.
Lalu bagaimana aku bisa terlihat
seperti seorang ekstrovert?
Sebenernnya menurutku introvert
dan ekstrovert itu bukanlah suatu kepribadian, tapi introvert dan ekstrovert
adalah bagaimana seseorang tersebut dapat mengisi ulang energinya kembali. Seorang
introvert suka dalam hal kesendirian, sepi, tidak mau berada dikerumunan orang
sedangkan ekstrovert kebalikannya.
Contohnya aku, selalu terlihat
seperti seorang yang suka dengan keadaan ramai, dikerumuni banyak orang karena
aku orangnya suka ikut duduk dan ikut mengobrol dengan orang padahal itu tidak.
Setelah aku melakukan hal tersebut aku merasa energiku habis, aku harus
memulihkannya dengan ‘me time’. Biasanya aku pergi ke toko buku, membeli es
krim, duduk di cafe/retoran, datang ke tempat wisata. Tapi aku selalu melihat
situasi dan keadaan, bila ramai aku enggan untuk berkunjung dan memilih untuk
pindah ke tempat lain karena aku butuh suasana yang mendamaikan pikiran dan
perasaanku.
Jadi, kalau pendiam dan tertutup
itu apa?
Itu adalah sikap, sikap bisa
dirubah dengan adanya niatan dalam diri kita untuk berubah dan membiasakan
diri. Memang sulit, tapi jika niatmu sudah bulat dan kamu selalu berusaha. Perlahan-lahan
akan terbiasa dan biasa saja walaupun terkadang masih ada yang tersisa dalam
dirimu.
Aku hanya membagikan pengalaman
dalam hidupku agar bisa memberikan pesan kepada orang-orang yang mengalami hal
yang sama sepertiku.
Mohon maaf bila ada salah dalam
perbedaan persepsi, karena aku menulis berdasarkan pengalaman pribadi bukan
orang lain. Terimakasih dan selamat membaca ^_^
Tidak ada komentar:
Posting Komentar