Hai, semoga dengan aku menulis ini. Aku dapat mengingatmu sepanjang hidupku. Kaulah orang pertama yang menjadi sahabatku, bahkan hingga saat ini walaupun kau tidak lagi disini bersamaku.
Dia adalah seorang sahabatku sejak aku kecil, namanya Chintya.
Kami dipertemukan disebuah tempat yang disebut Taman Kanak-kanak. Kami berbeda umur 1 tahun, aku lebih tua dari dia tapi dia yang lebih pengertian dan dewasa dibandingkan diriku saat itu. Dia anak yang pintar, cerdas, baik dan juga cantik. Kalau disekolah kita selalu menjadi rival, bersaing ingin yang menjadi nomor satu kelas.
Ketika menginjak Sekolah Dasar, kita berpisah sekolah. Tapi kita tetap bermain bersama saat sekolah agama (TPA) atau Taman Pendidikan Al-Qur’an. Setiap sore kita sekolah, ngaji bareng-bareng. Ada suatu kebiasaan saat itu yaitu setiap kali bel akan masuk tiba, aku dan dia selalu ke rumah dia dahulu untuk sekedar ngambil minum atau nonton tv sebentar. Walapun jarak dari sekolah dan rumahnya cukup jauh tapi itu telah menjadi kebiasaan kami berdua.
Sampai suatu ketika aku kehilangan kabar darinya, saat dia sehari tak masuk aku menanyakan kepada guruku “kemana chintya, bu?” guruku menjawab “chintya sakit put” aku pun menanyakan kembali “sakit apa memangnya bu?” tapi guruku hanya tersenyum dan menjawab “sakit biasa put, doakan ya supaya cepat sembuh”. Aku hanya diam menatap wajah guruku. Dari saat itu aku bertekad akan ke rumahnya bila besok dia tidak akan masuk lagi.
Esoknya, dia masuk sekolah dan aku pun senang. Aku pun bertanya “kamu sakit apa?” dia menjawab “sakit ini put {menunjukan salah satu anggota tubuhnya)” aku pun kebingungan “kok ada sesuatu dibadan kamu?” dia pun menjawab “gatau aku juga ini apa, tapi kalau dipegang sakit. Dulu engga sebesar ini tapi sekarang udah sebesar ini. Aku gatau namanya, gak dikasih tahu sama mamah dan bapak juga” dan aku disitu hanya menyemangati dia supaya bisa kembali sehat seperti sedia kala.
Lambat laun, dia makin jarang sekolah. Dan setiap kali aku ingin menengoknya selalu tidak ada di rumah karena dia sedang berobat. Semakin naik kelas, aku pun semakin sibuk dengan kegiatanku saat itu. Walaupun aku masih SD tapi aku lumayan banyak mengikuti kegiatan seperti pramuka, paskibra, dokcil, belum lagi kalau ada perlombaan bisa sibuk sampai seharian.
Aku selalu menanyakan kabarnya kepada temanku yang kebetulan dia adalah saudaranya. Kalau aku mendengar kondisi dia yang semakin buruk aku selalu nangis, tidak sanggup mendengarnya sedih. “Kenapa harus terjadi kepada dirinya. Dia orang baik, bukan orang jahat.” kataku dalam hati. Sesekali aku menengoknya dan memberinya semangat agar kuat dan segera sembuh.
Tahun demi tahun sudah, saat itu aku sedang mengikuti kompetisi perlombaan melukis dan aku menjadi wakil dari sekolahku. Aku ingat sekali hari itu adalah hari jumat dan itu adalah hari baik. Sekolah saat itu sedang tidak ada kegiatan belajar dan tiba-tiba dilapangan sekolahku ramai oleh guru dan anak-anak berkumpul berbaris rapih. Tapi saat itu aku sedang dikelas, bercanda dengan teman-temanku.
Tiba-tiba namaku terpanggil di pengeras suara “Puput Putri Lidiawati juara 1 lomba melukis tingkat rayon”, aku dan teman-temanku kaget mendengar hal itu dan aku disuruh berbaris ke lapangan bersama dengan anak-anak yang lainnya yang dipanggil.
Aku merasa ini mimpi, aku juara dalam perlombaan tersebut yang sebelumnya aku pesimis untuk menang karena saat itu aku sedang sakit. Hati anak mana yang tidak senang mendengar hal itu. Aku menerima piala dan piagam dan selanjutnya aku akan mewakili rayonku untuk ke tingkat selanjutnya.
Tapi tak lama berselang, ada pengumuman di masjid yang mengumumkan orang meninggal dan aku tidak menyangka orang tersebut adalah sahabatku Chintya, aku pun langsung menangis sejadi-jadinya. Aku tidak mau kehilangan dia, satu-satunya orang yang memahami dan mengerti aku saat itu. Tapi waktu berkata lain, dia pergi untuk selama-lamanya.
Kamu sudah tenang disana, bersama-Nya
Aku disini selalu mendoakanmu, semoga nanti kita dapat dipertemukan dalam keadaan baik disana yaa ...
Salam rinduku untukmu
-Teman Masa Kecilmu-